Sajak yang Tak Tersampaikan

Aku sadar, surat dan sajakku ini tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara dengan diriku sendiri, aku ingin berbicara dengan angin, dengan wangi dua belas tangkai mawar putih yang aku beli di tukang bunga pagi ini, dengan malam, dengan detik jam. Tentang kamu. Kamu yang selalu aku mengerti. Kamu yang tidak pernah mengerti aku. Kamu, serasa racun yang membunuhku perlahan. Entah mengapa demikian.

Sebelah dariku menginginkan agar kamu menghilang, jangan pernah dating lagi. Pergi dan jangan pernah menoleh lagi. Hidupku, hidupmu, mungkin akan lebih mudah. Namun, sebelah dariku menginginkan agar kamu dating menjemputku, mengamini kita, dan untuk kali kesekian, jatuh hati lagi, sedalam-dalamnya, sampai batas angan dan nyata pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian, mendamparkan dirilah kita di sebuah alam penuh bahagia untuk membaca ulang semua ungkapan hati yang pernah saling kita kirimkan satu sama lain, mengenang setiap langkah perjalanan, penantian panjang, pengorbanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah dariku percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung dan tak akan pernah mengalir mubadzir, segalanya pasti bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan lepas yang bersanding sejajar dengan cakrawala. Dan itulah sebenarnya tujuanku, tujuanmu, tujuan kita.

Kalau saja hidup ini tidak dinamis, kalau saja hidup ini tidak bergerak, tidak berpindah, kalau saja sebuah moment dapat selamanya stagnan di satu titik, maka tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamamu untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang keberadaannya kupersembahkan untuk bersamamu. Bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa aku rela membatu untuk itu. Hanya untukmu. Sungguh.

Akan tetapi hidup ini cair, hidup ini mengalir. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk selalu mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Bahkan tidak terkecuali, aku.

Aku takut. Aku takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanku untuk mengakui aku mulai ragu. Ya, aku mulai ragu padamu. Meski aku terlampau mendamba. Terlampau mencinta. Kamulah bagian terbesar dalam hidupku, tetapi aku cemas, tetapi aku khawatir. Kata sejarah mulai menggantung hati-hati diatas sana. Sejarah kita. Kenyataan tentang itu menakutkan sekali. Sejarah memiliki simpul istimewa dalam hidup manusia, tetapi tidak lagi melekat utuh pada realitasnya. Sejarah seperti awan yang tampak nyata namun ketika disentuh menjadi embun yang rapuh. Aku takut kita hanya akan menjadi sejarah. Sungguh, aku takut.

Skenario perjalanan kita mengharuskanku untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkan ulang di dalam ingatanku, dihatiku, sebagai sang teman hidup impian, sang tujuan, sang inspirasi bagi segala mahakarya yang kucipta kedunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kita seperti musafir yang tersesat di padang pasir. Berjalan dengan kompas masing-masing. Tanpa adanya usaha saling mencocokkan. Sekalinya kita bertemu, hanya aku yang berusaha untuk mempertahankan kita. Sekuat yang aku mampu. Tetapi kamu tidak. Tidak pernah sekali pun. Aku bertahan sendirian. Selama ini. Aku sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Aku pertaruhkan segalanya demi apa yang ku rasa benar. Dan mencintaimu menjadi kebenaranku.

Namun, tahukah engkau? Cinta butuh dipelihara. Bahwa didalam perjalanannya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, kemudian berjalanlah kita bergandengan, karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran, perasaan, dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah kamu dan aku. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta itu hidup.

Hingga akhirnya. Biarkan aku menangis sejadi-jadinya. Kamu, yang tidak pernah menyimpan gambar rupaku, pasti tidak akan pernah tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok yang teramat dicinta hingga air mata luruh karena menahan rindu. Dan aku, hanya bias berbagi kesedihan ini, kepedihan ini, kelemahan ini, dengan wangi bunga mawar putih yang semakin layu, dengan doa, dengan harap sepihak, dengan lagu sendu, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang diam karena habis daya.

Sampai pada halaman kedua sajakku dan suratku, aku yakin kamu akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tidak ada tatap nyata yang mampu meyakinkanku bahwa memang ini sudah usai. Tidak ada kata, peluk, atau langkah kaki beranjak pergi yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata jangan yang mungkin terucap darimu sehingga membuatku menghambur kembali dan tak akan pernah mau pergi lagi. Aku pun tersadar, inilah perpisahan yang paling sepi yang pernah ku alami.

Aku merasakan apa yang kamu rasakan, yang mendamba untuk mengalami. Aku yang telah menuliskan surat-surat dan sajak-sajak hati kepadamu. Namun ternyata tak pernah sampai kehatimu.

Teruntuk engkau yang teramat kucinta. Jikalau nanti merasa sepi, merasa bosan, merana, lelah dan nestapa karena ingin pulang. Datanglah kepadaku. Akan kutunjukkan jalan pulang untuk hatimu. Pulanglah kepadaku. Karena aku selalu bersedia menjadi tempatmu untuk pulang dan mengaduh. Sampai nanti. Sampai kapan pun. Hanya untukmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s