Persaingan Sentra Gerabah Kasongan

Seiring mulai dikenalnya peralatan rumah tangga yang terbuat dari bahan logam dan plastic, maka fungsi peralatan tradisional yang dibuat oleh orang – orang di Kasongan semakin sepi dari peminat. Karena selain berat, benda – benda tersebut juga mudah pecah. Orang Kasongan mulai kehilangan konsumen. Namun demikian, beberapa restoran besar yang beraroma tradisional masih sering memesan peralatan rumah tangga produksi dari daerah Kasongan.

Untuk menghadapi keadaan seperti itu, warga Kasongan bersama dengan pemerintah DI Yogyakarta berusaha bangkit dan bahkan membuka suatu pasar seni yang diperuntukkan untuk pengrajin. Sehingga para pelancong yang dating ke Yogyakarta bisa langsung pergi ke pasar seni untuk mendapatkan barang – barang kerajinan yang terbuat dari tanah liat. Daerah Kasongan memiliki tanah liat yang bagus sehingga kualitas barang yang diproduksi juga cukup baik dan halus. Hasil kerajinan warga Kasongan tidak hanya dijual di daerah Yogyakarta. Namun juga dipasarkan ke berbagai daerah, misalnya Bali.

Sekalipun peralatan rumah tangga yang berasal dari gerabah sudah tidak diminati lagi, pengrajin gerabah di Kasongan sampai saat ini masih tetap eksis karena selalu berinovasi dan kreatif dalam menghadapi persaingan. Warga Kasongan banyak yang memproduksi souvenir, barang seni, hiasan ornament dekoratif, kerajinan kulit bahkan juga set kursi teras. Inovasi dan kreatifitas tidak sepenuhnya berasal dari kreatifitas pengrajin gerabah di Kasongan, akan tetapi lebih banyak dikarenakan pesanan model dari pembeli yang datang. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Adanya pesanan tersebut justru semakin memajukan bisnis gerabah untuk lebih eksis. Banyak showroom dan galeri gerabah yang berdiri di sepanjang daerah Kasongan. Namun sayangnya pemilik showroom dan galeri tersebut kebanyakan bukan warga asli Kasongan. Melainkan pendatang dari luar Kasongan yang berusaha mencari peruntungan di sentra industry gerabah. Bahkan diantaranya sudah menjadi milik asing yang memfungsikan Kasongan sebagai trader besar.

Uniknya ketika mengunjungi Kasongan di DI Yogyakarta, bukan saja tersedia produk aneka macam kerajinan gerabah. Namun di tempat tersebut para pengunjung juga bisa mendapatkan semua jenis produk kerajinan dengan menggunakan aneka macam bahan baku. Mulai dari kerajinan yang terbuat dari kayu, kerang maupun batik. Bahkan beberapa kerajinan didatangkan khusus dari luar daerah untuk dijual di tempat tersebut. Adanya hasil kerajinan dari bahan baku lain ini merupakan sebuah bentuk mempertahankan hidup. Dimana pada satu titik orang tidak lagi merasa tertarik untuk membeli barang yang terbuat dari gerabah.

Hal itulah mengapa darah seni yang dimiliki oleh warga Kasongan dimanfaatkan untuk membuat barang lain dari jenis yang berbeda. Para pengunjung tentu saja sangat senang dengan adanya variasi produk yang beragam tersebut. Bahkan warga Bantul pada umumnya dan warga Kasongan pada khususnya membuat bunga yang terbuat dari berbagai macam bumbu dapur dan serat daun – daunan yang telah kering. Demikian juga dengan pelepah pisang yang juga dimanfaatkan untuk barang kerajinan.

Teknik pewarnaan juga dilakukan dengan menggunakan bahan pewarna alami sehingga bisa dijual hingga ke luar negeri. Hal tersebut dikarenakan adanya isu tentang kembali kea lam yang membuat para pengrajin memutar otak kembali agar tidak kehilangan pembeli (konsumen). Namun karena adanya krisis keuangan yang melanda Eropa, maka pengrajin Kasongan kehilangan banyak pembeli (konsumen) karena sebagian besar produk diekspor ke Negara daratan Eropa. Orang – orang Eropa memiliki ketertarikan sangat tinggi terhadap barang – barang yang memiliki daya seni tinggi. Mereka bahkan tidak tanggung – tanggung untuk menggunakan sesuatu yang menurut mereka unik walaupun harganya cukup mahal.

Penghargaan pada seni yang cukup tinggi tersebut yang membuat pengrajin Kasongan sempat merasakan hangatnya mata uang Euro. Tetapi kehidupan itu pada dasarnya cepat berubah, sehingga seseorang harus dituntut untuk menyesuaikan diri sesuai dengan perkembangan zaman. Tidak heran jika warga Kasongan mencoba membuat berbagai kerajinan unik yang berasal dari alam. Contohnya meja yang terbuat dari akar pohon dan lukisan yang terbuat dari tanah liat. Semua itu dilakukan untuk dapat menarik pengunjung supaya membeli produknya.

Untuk mempertahankan konsumen, pengrajin gerabah terus – menerus melakukan inovasi. Bahkan sampai saat ini di sentra industry Kasongan terdapat sekitar 100 model dan pengembangan untuk satu jenis guci. Selain terus berinovasi sesuai perkembangan, kalangan pengrajin gerabah juga rutin untuk melakukan pameran tingkat nasional maupun internasional yang difasilitasi oleh dinas terkait maupun dari kementerian Negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s