Hujan

Hujan tak pernah datang diawal November.
Dimana aku berada aku tak mampu temukannya.
Setiap sore aku menanti.
Kemilau tetes yang jatuh memantulkan cahaya jingga senja. Menyilaukan mata.
Dimana aku bisa menyentuhnya.

Menyentuh hujan karena salam terbaikan. Jam segini aku ia lupakan.
Dan aku tak pernah jenuh.
Karena rindu yang mengalir dibawa air, diterbangkan panas, ditiup angin dan ditumpahkan awan, aku mampu menyentuhnya.
Meski tak tahu itu rindu punya siapa dan entah darimana.
Sama seperti aku basah, menyentuh hujan dibelakang rumah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s