Aku Pasti Bisa

Pagi ini hujan rintik-rintik turun membasahi bumi tanah desa kami yang telah lama dilanda kemarau panjang. Terdengar sunyi suara penduduk yang masih enggan keluar rumah karena udara di luar terasa sangat dingin sampai menusuk tulang. Hanya samar terdengar suara adzan shubuh yang bersumber dari sebuah bangunan mushalla kecil tak jauh dari rumahku. Mushalla itu selalu ramai oleh orang-orang yang mengikuti sholat berjamaah setiap waktu. Namun kali ini hanya tampak beberapa orang saja yang melaksanakan sholat berjamaah disana.

Adzan shubuh yang dikumandangkan muadzin itu membangunkanku dari buaian mimpi indahku. Serasa tersentak dan terbangunkan oleh panggilan Illahi yang menyuruhku segera melakukan ibadah sholat wajib. Hooahm, Mataku terbuka sedikit demi sedikit, rasa kantuk pun masih menyerang tak kunjung pergi. Tapi harus tetap dipaksakan. Dalam hatiku berbicara “Ya Allah, Alhamdulillah hamba masih diberikan umur panjang hingga saat ini. Terimakasih Ya Allah, akan kulalui sisa hidupku ini untuk selalu ingat kepadaMu.” Tanpa pikir panjang lagi aku bangun dari dipan beralaskan tikar anyaman yang dibuat oleh mendiang nenekku. Lalu segera menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan melakukan sholat shubuh.

Seusai sholat shubuh, kubuka jendela kamar dan kurasakan udara benar-benar masih terasa sangat dingin. Kuhela napas panjang dan kukatakan “Selamat Pagi Dunia”. Kulihat sekitar, rintik-rintik hujan masih turun membasahi bumi. Tetes demi tetes turun dari atap rumah. “Musim kemarau telah usai, semoga rintik hujan ini membawa berkah untuk kampungku.”gumamku.

Waktu menunjuk pukul setengah lima dan masih sunyi di luar sana. Aku berjalan menuju dapur. Kutengok bilik emak dan dek Ririn, kelihatan mereka masih tertidur pulas memakai selimut tebal. Ahh, biarlah emak tetap tidur dulu karena semalam emak lelah bekerja. Aku lanjutkan langkahku menuju dapur. Kunyalakan perapian kayu bakar untuk menghangatkan badan. Lalu aku mengambil cerek berisi air dan dimasak di atas perapian. Aku juga memasak nasi untuk sarapan nanti. “Lumayan lah sambil menunggu air dan nasi matang, duduk dekat perapian. Itung-itung menghangatkan badan. Daripada harus menggigil kedinginan kan malah tambah sengsara.

Kreek…kreekk…!!!

Terdengar suara dari bilik kamar emak yang membuka pintu. Emak kaget melihatku sudah bangun dan duduk dekat perapian.

“Lhoh Vi, kamu sudah bangun tah nduk?” sapa emak.

“Eh iya mak. Emak sudah bangun juga ternyata. Tadi Silvi lihat emak tidurnya pulas banget.” jawabku tersenyum.

“Emak semalam kecapean,nduk. Jam 12 malam emak baru pulang kerja lembur di juragan bawang. Alhamdulillah nduk, penghasilan cukup untuk kita makan hari ini dan membayar cicilan uang sekolahmu. Lumayan lah…” cerita emak.

“Wah pantes aja, wajah emak masih kelihatan sangat lelah. Silvi semalam nungguin emak pulang, eh malah ketiduran. Maafin Silvi ya mak.” ucapku seraya memeluk emak.

“Ora opo-opo nduk. Kamu nggak usah nungguin emak karena pulang malam. Kan besok pagi kamu harus sekolah, nanti kalau begadang nungguin emak bisa-bisa kamu terlambat kesekolah karena kesiangan. Malah tambah panjang nanti urusannya dengan pihak sekolah.” kata emak.

“Betul juga ya mak. Tapi Silvi kasihan emak. Semalam Silvi buatkan kopi hitam kesukaan emak. Namun kopinya terlanjur dingin.”

“Emak tersenyum memandangku.”

“Oh iya mak, bapak kemana? Masih nganter keluarga Pak RT ke rumah saudaranya di Malang?” Tanya Silvia.

“Iya nduk, mungkin semingguan bapakmu nganterin Pak RT. Memangnya kenapa cah ayu? Kamu kangen bapak tah?” Tanya emak.

“Silvi kangen banget sama bapak, mak e. Semoga bapak baik-baik di perjalanan.” Tukas Silvia.

“Ya sudah nduk. Sekarang kamu mandi dulu sana? Sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah. Emak mau nyiapin sarapan dulu.”

“Inggih mak…”

Segera aku bergegas mandi dan berdandan sangat rapi di depan cermin besar yang nempel di lemari pakaian. Kemudian aku menuju dapur untuk sarapan bersama emak dan dek Ririn adikku yang kini duduk di bangku kelas IV SD. Nasi putih + tempe goreng menemani kita sarapan pagi. Hanya itulah yang biasanya kita santap setiap hari. Maklum lah kami keluarga pas-pasan, makan seadanya. Kadang juga pernah berpuasa alias tidak makan karena kami tidak punya uang sepeser pun. Penghasilan keluarga kami hanya bergantung pada pekerjaan emak sebagai buruh petani bawang merah dan bapak sebagai sopir yang kadang-kadang juga bekerja serabutan sebagai kuli bangunan dan penambang pasir.

Hari semakin siang, hujan pun telah reda, dan sinar matahari pun mulai menerpa dari ufuk timur. Kusiapkan sepeda ontelku di depan rumah untuk pergi ke sekolah. Aku dan dek Ririn berpamitan kepada emak. “Emak, kami berangkat dulu. Assalamu’alaikum…”

“Waalaikusalam, hati-hati ya nduk nggak usah buru-buru. Asal slamet sampai tujuan.” Balas emak.

Udara pagi terasa segar, di ujung jalan persimpangan masih berkabut. Kuderingkan bel sepeda, kukayuh menerobos kabut. Suasana desa mengiringi kami hingga sampai di sekolah. Sekolah dek Ririn berada di samping balai desa Sukamaju yang kira-kira jarak 3 kilometer dari rumah. Sedangkan sekolahku berada di kecamatan Babakan yang jaraknya sekitar 17 kilometer dari rumah. Walaupun terasa jauh dan melelahkan tetapi saya senang dan harus tetap semangat untuk terus belajar. Menggapai cita-cita yang tinggi. Bapak dan emak sangat menginginkan anak-anaknya menjadi sarjana dan orang sukses seperti Mbak Lisa anaknya juragan bawang yang sukses menjadi sarjana di slah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Ya, aku harus bisa seperti Mbak Lisa. Tekadku bulat, setelah lulus SMA ini aku harus kuliah hingga sarjana. Aku ingin mewujudkan impian Bapak dan Emak. Walaupun sekarang harus kutempuh perjalanan jauh ke sekolah dengan ngontel sepeda ya nggak apa-apa toh? Bersyukur kan nggak jalan kaki? Jalan kaki asli lebih capek loch… Mau cobain teman? Silahkan, Pak Polisi nggak bakal ngelarang kok? Pilih sepeda atau jalan kaki sih terserah kamu, itung-itung kita ikut menjaga bumi kita yang hampir sekarat karena dampak Global Warming? Hehehe

****

Akhirnya sampai juga di SMA Negeri 1 Babakan, tempatku menganyam pendidikan jenjang SLTA atau SMA. Silvia langsung masuk pintu gerbang sekolah dan langsung menuju tempat parkiran untuk menyimpan sepeda biar aman. Kemudian menuju ke kelas di XII-IPA3.

Aku duduk bersama teman sebangkuku Intan namanya. Kami giliran duduk di bangku depan saat ini. Tempat duduk bangku kelasku sengaja dibuat bergilir setiap tiga hari sekali agar teman-teman yang duduk dibelakang turut merasakan duduk di bangku depan. Selain itu dengan pola tersebut kita dapat menjaga kesehatan mata supaya tidak mengalami gangguan. Kalau duduk di bangku depan sih favorit aku, enak loch teman-teman… Tulisan di blackboard kelihatan jelas dan gede-gede. Mantap lah sejauh mata memandang… Lhoh kok jadi ngelantur??

Tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku dari belakang, sampai-sampai jantungku hampir copot.

“Duuuaaar… Hei Vi, loe sudah datang?” sapa Alfian sahabatku.

“Whoi Vi.. Loe kenapa sih? Ngelamun aja..”Alfian berteriak mengagetkanku.

“Astaghfirullah, eee Fian biasa aja kale? Jantungku hampir copot tau? “Silvia kaget bukan main (sambil mencubit bahu Alfian).

“Adduuuuuuuuhhhh, sakiiitt Silvia. Ya udah maafin gue deh, please…”

“Gue nggak maksud buat ngagetin loe? Cuma mau nyadarin orang yang lagi ngelamun aja… Hehehe” Kata Alfian.

“Apa? Abis kamu sih suka bikin kaget orang lah…”

“Ya ya ya, maafin lah Vi. Masakan gitu aja nggak mau dimaafin? Ati-ati dosa loch Vi, Tuhan aja Maha Pengampun. Loe masak pelit amat??” Alfian merajuk.

“Okelah dimaafin bro, lain kali kalo manggil biasa aja kale. Telingaku masih normal lah” Jawab Silvia.

“Abis loe tukang ngelamun sih. Untung nggak kesambet jin ifrit.”

“Hahaaha, iye bang. By the way on the way busway, ada apa nih?”

“Ahh nggak apa Vi. Oh iya Vi, loe bisa bantu gue nggak? Please.” Tanya Alfian.

“Bantuin apa?” Jawab Silvia.

“Loe tau sendiri kan Vi kalau gue lemah d pelajaran matematika?”

“Yoha,teruss???”

“Bantuin ngerjain soal latihan yang kemarin dong? Gue masih belum paham dengan penjelasan Pak Maryono. Boleh kan?” Tanya Alfian.

“Boleh boleh aja kok. Tapi nanti aja ya pas jam istirahat?”

“Baiklah. Fian ke bangku dulu ya. Bentar lagi kan jam pelajaran fisika. See you Silvia…..!!!

****

Teeett…teeett…teeett…!!!!

Bel masuk pun berbunyi. Bu Clara guru mata pelajaran fisika hadir mengajar di kelas kami. Bu Clara memberikan informasi kepada kami kalau Ujian Akhir Nasional akan tiba sebulan lagi. Maka dari itu anak-anakku rajin-rajinlah belajar yang lebih serius, berusaha, dan tetap yang utama berdoa kepada Allah. Agar kita diberi kemudahan dan kelancaran, pikiran yang jernih dalam Ujian Nasional nanti. Selain itu juga untuk kelulusan kami nanti.

Bagi anakku yang ingin melanjutkan kuliah semoga diberi kelancaran dan kemudahan mengikuti testing ke perguruan tinggi. Bagi yang ingin bekerja, semoga diberikan kemudahan juga untuk mendapat pekerjaan yang layak. Bagi yang ingin berumah tangga, ibu tunggu undangannya.” Gurau Bu Clara”

“Hahahahahaa……hahahahaahaa…….” Gelak tawa pun bergemuruh dikelas kami tercinta ini.

“Amien Ya Robbal Alamiinn……………………” jawab kami serempak.

****

Jam bell istirahat pun berbunyi. Semua anak-anak bertebaran keluar ruangan kelas menuju ke kantin dan koperasi sekolah. Ada juga yang duduk-duduk di bangku taman sekedar menghilangkan rasa penat dan jenuh. Aku dan Intan ikut keluar kelas seperti anak-anak lainnya, kami hendak menuju ke bangku dekat lapangan basket. Terdengar samar-samar suara seorang lelaki dari jauh.

“Hai Intan. Hai Silvia. Tunggu aku dong?” Alfian menyapa kami.

“Oh iya Vi, kamu jadi mau bantuin ngerjain soal matematika padaku kan?” Tanya Alfian.

“Yeelah Fian. Aku hampir saja lupa. Baiklah aku ajari kamu ngerjain matematika.”

“Tan, kamu mau ikut kami?” Tanya Silvia pada Intan.

“Iya Vi, Intan ikut ya? Boleh kan?”

“Oh tentu saja boleh lah. Of course… Kita kesana yuuk?” (Alfian sambil menunjuk sebuah bangku taman di dekat lapangan basket.”

****

Jam menunjuk pukul 2  siang. Bell pulang sekolah pun berbunyi nyaring sekali. Aku dan Intan segera menuju tempat parkiran agar tidak terlibat macet panjang saat akan keluar dari parkiran belakang sekolah. Setiap pulang sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah, namun bekerja di sebuah warteg milik Bu Nina yang terletak di sebelah rumah Intan sebagai tukang cuci piring dan cleaning service (nama bekennya).

Kita selalu mengobrol tentang apa saja di sepanjang jalan sambil terus kukayuh sepeda. Setelah sampai di rumah Intan, aku langsung ganti baju dan bekerja di warteg Bu Nina yang selalu ramai di siang hari.

“Tan, aku nitip barang-barangku di sini dulu ya?”

“Siiph lah. Rembezz tak usah khawatir.” Jawab Intan.

“Oh iya Vi, kamu nggak makan dulu? Ibuku tadi masak soup macroni enak loch?”

“Terimakasih banget ya Tan. Tapi aku masih kenyang” Jawab Silvia seraya tersenyum.

“Hah kenyang? Emang kamu tadi makan apaan Vi? Kamu kan nggak pernah suka jajan? Ayolah, nanti kamu kelaparan.” Intan menawari ku dengan agak memaksa.

“Nggak usah Tan. Oh iya aku ke warteg  dulu ya. Assalamu’alaikum..”

“Ya sudahlah. Waalaikumsalam…”

****

Tok… tok… tok… !!!

“Ealah kowe tah nduk? Dikira belum datang. Ya wis bantuin Ibu jualan sekarang Vi. Warung rame, kamu lihat sendiri kan? Cepetan sini?” pinta Bu Nina.

“Oke buk, siap laksanakan.” Jawab Silvia.

Segera kukerjakan pekerjaan itu. Hingga selesai pada sore hari dan kuterima upah dari Bu Nina sebesar 5000 rupiah. “Terimakasih banyak bu.” Alhamdulillah, lumayan ditabung untuk biaya kuliah nanti. Insyaallah, amien…

Aku pulang kerumah Intan. Kemudian mandi dan bergegas pulang kerumahku. Sebelum sampai rumah, aku menjemput Dek Ririn ke rumah temannya, Eva namanya. Setiap hari adikku menungguku di rumah Dek Eva.

“Rin, itu mbakmu sudah datang. Cepetan sana pulang, nanti emakmu khawatir kalau terlalu petang.” Kata Bu Hesti, Ibu Dek Eva.

“Ayo kita pulang dek. Mana tasmu?” sahut Silvia.

“Akan ku ambil dulu mbak, tungguin sebentar  ya.” Pinta Dek Ririn.

“Ayo mbak kita pulang. Eva, aku pulang dulu ya.” Pamit Ririn (sambil mencium tangan Bu Hesti).

“Terimakasih Bu Hesti dan Dek Eva. Kami pulang dulu. Assalamu’alaikum…”

“Waalaikumsalam, hati-hati kalian di jalan. Jangan grusa-grusu nduk.” Sahut Bu Hesti.

Kunaiki sepeda ontel bersama adikku. Menembus sore yang hampir petang. Jalanan menuju desaku mulai terlihat sepi, kupercepat kayuhan sepedaku lebih kencang. Akhirnya kami sampai di rumah.

“Eh anak-anakku sudah pulang. Cuci tangan dan kaki kalian dulu sana. Emak sudah siapkan makanan di meja. Kalian pasti lapar kan?”

Silvia dan adiknya pergi ke sumur untuk cuci tangan dan kaki. Lalu kami pun makan bersama dengan lauk sederhana tetapi sangat nikmat. Pokoknya ngalah-ngalahin makanan yang dijual di restoran Jepang dan Mc.Donald. Padahal aku sama sekali belum pernah kesana, hanya mendengar cerita teman-temanku yang sering pergi ke Surabaya atau kota besar lainnya. Kalau kita lapar, makanan apa saja yang kita lahap akan terasa sangat nikmat walau makan hanya dengan nasi putih+sambal bawang+tempe goring. Hmm, mak nyuuss…

Seusai makan Silvia istirahat sejenak untuk menunggu sholat maghrib berjamaah di mushalla dekat rumah. “Wah nyaman sekali rasanya bisa berbaring di kursi panjang.” Tak terasa Silvia pun tertidur pulas karena kelelahan. Lalu terdengar suara adzan maghrib berkumandang dari mushalla.

“Astaghfirullah, aku ketiduran.” Gumam Silvia, lalu bangun sambil merapihkan ikat rambutnya dan mengambil air wudlu untuk sholat maghrib di mushalla. Setelah sholat maghrib, Silvia tak langsung pulang namun ia biasa mengajar anak-anak mengaji di mushalla hingga selesai waktu sholat Isya’. Ia biasa belajar, mengerjakan pr, dll setelah pulang mengajar.

****

Genap seminggu sudah bapak ke Malang. Hari ini katanya bapak akan pulang. Aku berjalan menuju depan ke teras rumah. Kurasakan semilir hawa udara pagi hari yang masih segar dan belum tercampur oleh polusi dari kendaraan bermotor yang kian marak penduduk kampung juga ikut memilikinya.

Baru sebentar aku duduk. Tiba-tiba ada seseorang berjalan menuju rumahku dengan membawa oleh-oleh banyak.

“Bapak kah itu? Emak, bapak pulang mak e? Cepetan kesini?” Girang Silvia.

“Assalamu’alaikum…” salam Bapak.

“Waalaikumsalam.  Alhamdulillah bapak sudah pulang.” Aku dan emak mencium tangannya.

“Iya mak. Oh iya Vi ini oleh-oleh untukmu nduk, bapak ngumpulin receh tiap hari untuk membelikanmu barang ini. Ambillah nduk.” Kata bapak sambil memberikan bungkusan kotak cokelat kepada Silvia.

“Apa ini pak?” Tanya Silvia.

“Bukalah saja nduk, nanti kamu juga tahu sendiri.” Jawab bapak tersenyum.

Segera kubuka bungkusan itu karena aku sangat penasaran apa sebenarnya isi kotak ini. Aku kaget banget, ternyata isinya buku-buku soal latihan UN, latihan soal SPMB, soal SNMPTN, dan beberapa buku tulis baru. Aku jarang membeli buku baru karena mahal, hanya ada beberapa saja. Kalau habis aku sambung buku-buku itu dengan kertas buram yang harganya jauh lebih murah. Kertas buram itu aku dapat dari Bu Nina tempatku bekerja.

“Alhamdulillah, bapak terimakasih banget. Silvia senang sekali. Bapak beli ini semua dari mana?” Tanya Silvia (sambil memeluk bapaknya).

“Syukurlah kalau kamu senang nduk. Bapak dapat beli itu semua dari Pak Sukri tukang rosok di pasar. Lumayan lah nduk walaupun bekas kan masih layak di pakai.” Kata bapak.

“Ah nggak apa-apa lah pak e. Silvia udah senang banget pokoknya. Sudah dibeliin buku-buku ini. Jadi kan aku lebih gampang belajarnya, nggak usah lagi nebeng ke rumah Alfian atau Intan.” Kata silvia.

“Owalah, kamu ngomong bahasa Inggris tah nduk? Nebeng kuwi opo?” Bapak heran.

“Nebeng itu ikutan pak e. Itu bukan bahasa inggris, tapi katanya bahasa modern.” Jelas silvia.

“Oh gitu ya. Anak zaman sekarang aneh-aneh aja. Dulu zaman bapak masih muda nggak ada bahasa kayak itu. Zaman sudah berubah dan selalu berubah.” Cerita bapak.

“Iya lah pak. Kita kan hidup dalam masyarakat dan masyarakat pasti mempunyai kreatifitas untuk menciptakan inovasi baru. Ada yang berdampak positif, ada pula berdampak negative. Tergantung kita sendiri bagaimana menyikapi itu semua.” Kata Silvia.

“Bapak berharap kamu bisa sekolah hingga sarjana dan jadi orang sukses nduk. Kalau kamu pinter, kamu nggak gampang di bujuki dan di bohongi orang nantinya. Apalagi zaman sekarang kan serba susah. Jangan kayak bapak dan emak, hanya dapat ijazah SD tok. Itupun bapak syukuri karena teman-teman bapak dulu banyak yang sekolah SD saja nggak tamat. Bapak akan melakukan usaha apa saja yang penting halal untuk menyekolahkan kamu dan adikmu sampai sarjana. Bapak janji nduk.” Kata bapak sambil menepuk pundakku.

“Aku juga janji pak e, aku janji akan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan impian bapak dan emak. Aku pasti bisa menggapai semuanya, aku pasti bisa melewatinya.” Kata Silvia menangis memeluk bapak dan emak.

“Iya nduk percaya lah kamu pasti bisa. Allah pasti memberikan jalan dan petunjuk bagi orang yang sabar dan bekerja keras. Kita selalu mendoakan untuk kebaikan mu nduk.” Balas emak ikut pula menangis.

“Ya sudah bapak mau istirahat dulu. Kamu baca buku-buku itu ya nduk, semoga bermanfaat untukmu. Bapak tahu kamu pengen sekali memiliki buku itu kan? Sekarang bacalah dan pelajarilah semuany.” Pinta bapak kepada silvia.

“Amien. Iya pak pasti aku pelajari kok. Bapak pasti capek, bapak istirahat saja dulu.” Jawab silvia.

(bapak tersenyum melihatku).

****

Tiba saatnya yang di tunggu-tunggu yakni Ujian Akhir Nasional (UAN) yang diselenggarakan oleh pemerintah secara serempak di seluruh Indonesia. Ujian ini adalah penentuan akhir riwayat kami di jenjang SMA. Sebelumnya kami sudah mempersiapkan beberapa bulan lalu untuk menghadapi ujian ini. Rasa deg-deg an, nervous, dan lain sebagainya bercampur menjadi satu. Demikian juga dengan Silvia yang saat ini sedang menghadapi Ujian Akhir Nasional di SMA Negeri 1 Babakan.

“Aduh, bagaimana aku deg-deg an banget sekarang?” keluh seorang temanku.

“Nggak usah deg-deg an, nyantai saja lah. Nanti malah nggak bisa untuk berpikir.” Jawab Silvia.

“Tapi Vi, aku belum siap dengan UAN sekarang?” kata seorang temanku.

“Sudah lah jalani saja. Semua siswa seluruh Indonesia aku yakin hari ini 90% tidak siap semua menghadapi UAN. Termasuk aku juga. Salah satu cara kita lulus ujian adalah kita harus menghadapi ujian itu, jangan malah menghindar darinya.” Jawab Silvia menghibur.

“Hmm, gimana ya Vi?” keluh temanku.

“Gimana apanya? Sekarang rilex aja dulu dan berdoa untuk ujian hari ini semoga lancar. Sepuluh menit lagi kita harus masuk kelas. Kamu ingin kepalamu adem kan? Kita berwudlu aja yuk, semoga dari situ lah kita mendapat pencerahan atas izin Allah tentunya.” Terang silvia.

“Baiklah kita wudlu dulu sekarang.” (sambil menuju ke tempat wudlu di masjid sekolah).

Teet…teet…teet… !! Bell masuk pun berbunyi. Aku masuk ke ruangan yang telah dipersiapkan oleh panitia dan membawa kartu tanda peserta UAN. Aku berdoa dan menghela napas dalam-dalam lalu ku keluarkan lagi lewat mulut agar lebih rilex. Mulailah aku mengerjakan soal ulangan hingga selesai semuanya, lalu kuserahkan pekerjaanku kepada panitia pengawas UAN di ruanganku. Begitu terus hingga selesai satu minggu lamanya. Haah, Alhamdulillah satu ujian sudah kulewati. Tinggal menunggu kelulusan dan mencari perguruan tinggi. Semoga keberuntungan berpihak kepadaku dan kepada kita semua yang telah melaksanakan ujian. Amien…

Sambil menunggu hasil kelulusan, aku disarankan oleh guruku ikut PMDK ke ITS dan Unair karena nilai rapor semester 1 sampai 5 diatas angka 80. Kebetulan juga aku berminat kuliah disana, lalu aku daftar dan mengikuti ujian PMDK di Surabaya. Alhamdulillah aku lolos testing ke kedua Universitas itu. Terpaksalah aku harus memilih satu dari dua pilihan, dan keputusanku jatuh pada ITS jurusan Teknik Sipil (Civil Engineering). Emak dan bapak pun setuju aku kuliah kesana, karena disana aku juga mendapat beasiswa kurang mampu.

Setelah mendapat perguruan tinggi, aku tak lekas puas karena pengumuman kelulusan masih seminggu lagi. Aku terus berdoa dan berdoa setiap hari meminta agar bisa lulus dengan pencapaian yang maksimal. Akhirnya doaku dikabulkan oleh Allah, aku lulus dengan nilai bagus. Alhamdulillah…

“Horeee kita semua lulus….” Sorak siswa kelas XII.

Aku menangis terharu mendengar pengumuman itu. Intan dan Alfian datang menghampiriku.

“Hai Vi, kita lulus. Aku senang banget.” Kami bertiga berpelukan dan menangis haru.

“Whoi Silvia, Alfian, Intan. Sini lah kita rayakan kelulusan kita.” Kata siswa lainnya.

“Ayo kita kesana.”

Kami pun hanyut dalam kesenangan. Dan lenyaplah sudah segala rasa duka yang kami rasakan. Berganti dengan rasa bahagia dalam benak masing-masing orang. Bahagia bercampur sedih karena tak mungkin lagi kita nanti akan merasakan masa-masa indah seperti masa SMA dan kita pun akan berpisah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sungguh hal yang menyedihkan pula untukku karena harus berpisah dengan Intan dan Alfian sahabat karibku yang selalu mengisi hari-hariku, suka dan duka kita selalu bersama. Tapi setelah ini kami harus berpisah, Alfian akan melanjutkan kuliah di Jakarta dan Intan akan melanjutkan kuliahnya juga di Jambi ikut bersama dengan pamannya. Benar kata pepatah bahwa setiap ada pertemuan pasti kan ada perpisahan. Begitulah roda kehidupan berputar, namun tak ada seorang pun yang bisa membalikkan Sang Waktu kepada masa lalu.

****

Aku berangkat ke Surabaya dengan diantar bapak, emak, dan dek Ririn ke Stasiun KA Balapan. Kami duduk di bangku tunggu, tampak ramai orang-orang yang ingin pergi menggunakan jasa kereta api. Mataku kembali lagi tertuju pada keluargaku, Kulihat raut wajah bapak dan emak yang penuh pengharapan kepadaku. Aku tersenyum simpul melihat beliau. “Nduk, jaga dirimu baik-baik disana. Surabaya itu kota besar, banyak rintangan dan tantanganmu disana. Jangan lupa berdisiplinlah sembahyang sholat dan mengaji setiap hari. Kalau ada apa-apa kamu bisa kirim surat atau ngebell ke rumah Pak RT. Beliau sudah menganggap kita saudara sendiri, jadi nggak usah sungkan-sungkan kamu sekedar ngebell melalui beliau.” Pesan bapak dan emak. Aku menangis saat beliau memberikan nasehat yang sangat berarti kepadaku, langsung kupeluk kedua orang tuaku erat sambil berkata “Inggih, aku pasti ingat selalu nasehat bapak dan emak. Aku janji. Aku pasti bisa melalui semuanya. Doain Silvia ya pak e, mak e?”. “Iya nduk, doa kami selalu menyertaimu.”

Kereta yang akan aku tumpangi ke Surabaya pun sampai. Aku berpamitan kepada keluargaku. “Pak e, mak e, Silvia pamit berangkat dulu ya? Silvia janji akan pulang ke desa dengan membawa ijazah sarjana.” Kucium tangan beliau, tak kuasa air mata pun mengalir mengiringi langkahku. “Dek Ririn, adikku yang pinter. Kakak pamit dulu ya sayang, jagain emak dan bapak, jangan nakal ya sayang. Mbak cuma sebentar kok di Surabaya.” Ucapku pada adikku. “Mbak, nanti kabari ya kalau sudah sampai sana? Ririn ingin tahu Kota Surabaya yang sering diceritain Bu Guru itu seperti apa. Tapi nanti Ririn nggak punya teman di rumah?” kata Dek Ririn. “Adikku sayang, mbak akan sering-sering nanti kirim surat. Kamu nggak sendiri dek, kan ada bapak dan emak.” Silvia tersenyum. “Oh iya dek, nanti sepeda ontel mbak, kamu pakai saja buat ke sekolah. Sudah jangan nangis.” Silvia menghapus air mata adiknya.

Silvia pergi dulu ya. Silvia pasti kembali….

****

Hampir satu semester aku di Surabaya, aku nggak bisa kalau harus diam saja bila tak memiliki uang. Uangku telah habis, aku harus bekerja sampingan sepulang kuliah. Aku pergi keluar kostan untuk mencari pekerjaan, kerja apa saja yang penting halal. Aku berjalan hingga jauh namun belum juga mendapat pekerjaan, akhirnya kuputuskan untuk kembali lagi ke kostan karena hari sudah malam. Kupikir besok saja kuteruskan mencari kerja setelah kuliah. Aku sudah sangat kelelahan sekarang.

Esok hari sepulang kuliah, aku langsung berjalan kembali mencari pekerjaan. Seperti kemarin lagi-lagi aku belum mendapati satu pun pekerjaan. Hari berikutnya juga sama, namun disaat kuberjalan tadi kudapati ada seorang mahasiswa sama sepertiku berjualan nasi bungkus dan es teh keliling. “Hmm, nah aku jualan nasi bungkus keliling saja seperti mahasiswa tadi. Kebetulan kan ibu kost juga suka bikin nasi kuning dan nasi uduk. Aku kan bisa bantu distribusikan nasi-nasi itu. Hehehe…” pikir Silvia. Kemudian Silvia menemui ibu kostnya.

“Assalamu’alaikum. Ibu, boleh ngobrol nggak?” Tanya Silvia.

“Waalaikumsalam. Eh Silvia, boleh nak. Kamu mau ngobrol apa sama ibu?” jawab ibu kost.

“Begini bu, ibu kan saya lihat suka bikin nasi bungkus di warung. Boleh nggak Silvi ikut bantuin ibu jualan nasi bungkus keliling?” kata Silvia.

“Lhoh memangnya kamu ada waktu nak? Bukannya dari kemarin kamu ibu lihat selalu sibuk dengan tugas-tugasmu yang seabreg itu? Kamu nggak capek nak?” Tanya ibu kost.

“Insyaallah kalau ada niat pasti ada jalan bu. Sepulang kuliah nanti saya bisa jualan nasi bungkus keliling, kalau boleh juga nanti saya akan titipin nasi ke kantin.” Silvia tersenyum.

“Ya dengan senang hati, boleh nak. Kamu akan memulai jualan kapan? Nanti ibu siapkan untuk kamu jual.” Tanya ibu kost.

“Besok saja bu, sepulang kuliah.”

“Ya sudah besok ibu siapkan nasi kuning dan nasi uduk masing-masing 15 bungkus. Kamu jual ya. Sekarang kamu balik ke kamar, tidur sana sudah malam nak.” Kata ibu kost.

“ Iya bu baiklah. Terimakasih banyak ibu..”

Esok hari aku kuliah seperti biasa sampai jam 4 sore. Setelah itu aku kembali ke kostan untuk mengambil nasi bungkus yang sudah disiapkan oleh ibu kost untuk saya jual. Pukul setengah lima sore aku mulai berjalan keliling,

“Ayo,Ayo nasi bungkus. Nasi bungkus enak. Siapa mau beli? Nasi bungkus.. Nasi bungkus enak.. Mau beli mas, mbak?” Silvia menjajakan dagangan.

“Mbak, mbak sini. Jual apa ini mbak?” Tanya pembeli.

“Nasi kuning, nasi uduk komplit cuma goceng doing? Mau beli mas?”

“Ya boleh, saya beli masing-masing 2. Ini uangnya.” Terang pembeli.

“Ya terimakasih banyak. Besok beli lagi ya?” Gurau Silvia.

Akhirnya semua nasi terjual habis tanpa sisa sampai jam 6 sore. Malah ada pembeli yang nggak dapet karena habis. Kemudian aku pulang ke kostan dan menyerahkan uang hasil jualan ke ibu kost, lumayan 30.000+1 nasi bungkus gratis. Alhamdulillah. Begitu lah yang ku kerjakan setiap hari, kuliah dan bekerja jualan nasi bungkus keliling di Surabaya.

****

Suatu hari Bu RT menelpon ke rumah ibu kost. Katanya aku disuruh pulang ke desa, bapak terkena penyakit stroke dan sudah beberapa hari ini nggak bisa bekerja. Silvia pun langsung terkulai lemas tak berdaya, lalu teman-temannya menggotong ke kamarnya.

“Vi, sadar dong? Jangan pingsan lama-lama. Kita khawatir sekali sama kamu.” Kata teman kamar sebelah.

Tak berapa lama Silvia pun sadarkan kembali. Dalam mimpinya tadi, ia bertemu bapaknya yang memberikan nasehat kepadanya. “Nduk, kamu harus tetap kuliah. Gapailah cita-citamu setinggi langit. Kamu harus jadi orang pinter dan sukses, jangan seperti nasib bapak dan emakmu ini. Kamu pasti bisa nduk.” Seketika itu aku langsung sadar.

“Bella, aku dimana? Aku harus pulang Bell, bapakku sakit di desa.” Tanya silvia.

“Kamu ada di kamar Vi, tenanglah dulu istirahatlah. Kamu baru sadar dan kondisimu belum pulih betul.” Kata Bella anak ibu kost.

“Tapi Bell, aku harus pulang sekarang. Aku nggak bisa membiarkan begitu saja orang tuaku.” Silvia  memaksa.

“Iya Vi, aku ngerti. Bersabarlah sobat, Allah sedang menguji kesabaranmu dan keluargamu Via.” Bella memelukku.

“Ya Allah sungguh berat cobaan dariMU. Bapakku sedang sakit stroke, mengapa keluarga juga baru memberi kabar sekarang? Aku bingung harus bagaimana sekarang, kalau aku pulang uangnya nggak cukup untuk beli ticket Bella. Apa aku harus jalan kaki dari Surabaya-Solo? Tapi rasanya bakal terlalu lama sampainya. ” kata Silvia.

“Sudahlah, nanti kamu aku antar saja pulang ya Vi? Aku ingin kenal juga dengan keluargamu di desa. Oke?” jawab Bella.

“Tapi Bell, aku nggak mau merepotkanmu. Keluargamu sudah banyak membantuku. Tak tahu diri sekali aku itu Bell?”

“Ah nggak apa-apa kok Via, santai aja. Kamu sudah aku anggap saudaraku sendiri, jadi nggak usah lah kamu sungkan denganku. Ibu dan ayahku pasti mengizinkanku mengantar kamu pulang ke desa.” Bella menghiburku.

“Terimakasih banyak Bella, kamu memang sahabatku yang terbaik. Sepert halnya Alfian dan Intan.” Kata silvia.

“Iya sama-sama, kan sesama makhluk Tuhan kita kan harus saling membantu dan mengisi. Besok kita berangkat ya Via?”

“Iya Bell, terimakasih ya. Maaf bisa kau tinggalkan diriku sendiri disini sobat.” Pinta silvia.

“Oh ya sudah. Aku keluar dulu, mau tidur capek sekali rasanya.” Jawab Bella.

Setelah Bella meninggalkanku sendiri di kamar. Ku pandangi foto keluargaku yang hanya berwarna hitam putih. Kuelus-elus dan kupeluk dekat jendela sambil menatap jauh ke langit malam. Langit gelap diselimuti mendung tebal, bulan dan bintang pun tak memancarkan sinarnya. Malam ini sungguh terasa sepi, hanya suara kendaraan bermotor dari ujung jalan yang masih saja tetap terdengar.

Esok pagi aku dan Bella di antar Cak Norman berangkat ke Stasiun Gubeng. Begitu sampai stasiun, kami hampir saja ketinggalan kereta. Peluit KA ekonomi Gayabaru berbunyi, kami pun lari terengah-engah menuju gerbong tempat duduk. Alhamdulillah, kita bisa di atas gerbong sekarang Bella. Aku tak sabar sampai ke rumahku. Aku rindu setengah mati kepada keluarga dan kampungku.

Kurang lebih 6 jam an kami naik kereta. Akhirnya sampai juga di Stasiun Balapan. Aku menarik tangan Bella keluar dari gerbong.” Kita sudah sampai Bell, inilah Stasiun Balapan Kota Solo. Yang kayak lagu Om Didi Kempot? Tahu kan?” terang Silvia.

“Hehe, iya aku tahu Via. Sekarang kita kemana?” Tanya Bella heran.

“Kita naik angkutan pedesaan. Nanti angdes cuma sampai ujung jalan kampung sebelah. Kita berhenti disana.” Jelas Silvia.

“Oh gitu.  Terus ke kampungmu berapa meter lagi kalau dari tempat angdes berhenti?”

“Dekat kok. Sekitar tiga kilometer saja.”

“Haah?? Tiga kilometer?? Aku nggak salah dengar Vi? Kita jalan kaki nanti?” Bella heran.

“Kalau aku sih biasa jalan kaki jika nggak bawa sepeda ontel. Maklum nggak punya kendaraan lain selain sepeda ontel tua kretek-kretek. Tapi nanti kita bisa naik cikar  (gerobak yang ditarik 2 ekor sapi) Pak Badrun dari tempat berhenti angdes. Beliau tetanggaku Bella, jadi kita nggak perlu jalan kaki.” Jelas Silvia.

Sampailah kami di tempat pemberhentian angdes. “Kita tunggu Pak Badrun disini aja Bella, sebentar lagi juga cikarnya lewat sehabis mengangkut bawang merah ke pasar.” Silvia mengkomando.

“Oh iya. Desa kamu elok rupa juga Silvia, baru pertama kali aku kesini. Sawah terhampar  hijau yang luas, udaranya pun sangat sejuk, serasa back to nature. Indah sekali, sepertinya aku betah disini Vi. Kalau Surabaya kan kota besar, banyak polusi udara dimana-mana. Hampir semua lingkungan sudah tercemar.” Kata Bella.

(Silvia hanya tersenyum melihatnya)

“Oh itu dia Pak Badrun. Pak Badrun tolong berhenti cikarnya, bisa kami numpang sampai rumah?” pinta silvia.

“Owalah. Kamu Silvia to nduk? Mari sini naik ke cikar. (Silvia dan Bella lekas naik ke atas). Kebetulan bapak mau ke rumahmu jenguk bapakmu. Bapakmu sakit stroke nduk, sudah dua minggu nggak bisa kerja. Jadi emakmu yang mencukupi kebutuhan keluarga. Kamu sudah selesai kuliah di Surabaya nduk?” Tanya Pak Badrun.

“Belum pak. Masih sekitar dua tahun lagi itu paling cepat selesai. Kemarin saya dikabari Bu RT kalau bapak sakit. Ya sudah saya pulang sekarang, di antar Bella anak ibu kost saya pak.” Kata Silvia.

“Owalah gitu toh. Pak Badrun sih nggak ngerti soal kuliah-kuliahan nduk, dulu sekolah SD aja cuma sampai kelas 5, terus habis itu keluar. Nggak ada biaya soale.” Cerita Pak Badrun.

Bella hanya terdiam sambil menikmati indahnya pemandangan di desaku. Tengok kanan, tengok kiri, kalau ada yang sekiranya dia belum pernah tahu pasti suka nanya melulu kepadaku. Maklum orang kota masuk desa. Hahaha

“Nah kita sudah sampai rumah Silvia sekarang.” Kata Pak Badrun.

Silvia cepat-cepat turun dari cikar menuju ke dalam rumah, dia lupa mengajak Bella masuk kerumahnya. “Bapak, emak, Dek Ririn, Mbak Silvia pulaaaaang???” teriak Silvia.

Emak dan Dek Ririn lari menuju pintu depan. Didapatinya putrid sulungnya pulang. “Nduk, kamu pulang sayang? Emak kangen banget sama kamu.”(sambil dipeluknya Silvia).

“Silvia juga kangen banget mak e, hampir satu setengah tahun aku nggak bisa pulang cuma kirim surat aja. Maafin aku ya mak e.”(Silvia menangis dipelukan emaknya).

“Sudah, sudah, nggak apa-apa. Oh iya nduk, gadis cantik di depan itu siapa?” emak heran.

“Oh itu. Dia Bella mak e. Bella sini dong kenalin ini emakku. Nah ini dia anak yang suka kuceritain di surat mak e.” kata silvia.

“Owalah kamu nduk. Emak ngucapin banyak terimakasih sama kamu dan keluarga. Emak senang sekali kamu bisa datang ke gubug orang tua Silvia ini.”(kata emak memeluk Bella).

“Iya mak. Sama-sama, Silvia itu anak yang sabar, tegar, kuat, dan selalu ceria. Bella senang bisa kenal Silvia dan keluarga disini.” Bella tersenyum.

“Mari silahkan masuk. Maaf rumahnya jelek dan berantakan nak Bella.”

“Yuk Bell (sambil menggandeng tangan Bella masuk ke dalam rumah). Emak, bapak dimana?” Tanya silvia.

“Ada di kamar nduk. Kesanalah temui bapakmu, beliau sangat merindukanmu.” Jawab emak.

Silvia langsung berlari menuju kamar bapak. Ditemui olehnya bapaknya sedang terbaring di atas dipan tak berdaya. “Assalamu’alaikum, bapak. Bapak kenapa? Ini putrimu Silvia pak, Silvia pulang. Silvi dengar dari Bu RT kemarin kalau bapak sakit. Bapak cepat sembuh ya? Ada Silvi disini, Silvia mau nemenin bapak sampai sembuh.” Silvia menangis di pelukan bapaknya.

“Nduk, bapak nggak apa-apa kok. Bapak senang kamu pulang, bapak sangat merindukanmu anakku.” Bapak bicara sedikit gagu.

“Silvia juga kangen sama bapak.”

“Kamu tadi datang sama siapa nduk? Sendirian toh?”

“Tidak pak, aku diantar oleh teman, dia yang sering kuceritakan kalau kirim surat kemari pak. Bapak istirahat saja dahulu. Biar cepat sembuh.” Jawab silvia.

“Iya nduk. Bagaimana kuliah kamu? Lancar kan? Maafkan bapak belum bisa kirimi kamu uang kuliah di kota. Bapak belum bisa kerja nduk?” kata bapak.

“Alhamdulillah lancar pak. Nggak apa-apa saya ngerti kondisi bapak. Bapak yang sabar ya.” Jawab Silvia.

“Kamu memang anak yang berbakti nduk. Bapak bangga kepadamu.” Bapak menciumku.

Bapak tertidur sekarang. Biarkan beliau istirahat. Kutinggalkan beliau di kamar. Lalu aku keluar dan mengajak emak berbicara.

“Nduk, bagaimana kita sekarang? Kapan kamu mau kembali ke Surabaya?” emak memulai.

“Maksudnya? Mak, saya baru saja datang. Masakan harus pergi lagi? Saya akan tetap disini sampai bapak sembuh.”  Jawab silvia.

“Emak bingung nduk, emak mau usaha seperti apa lagi? Kita sudah nggak punya uang, utang pun terus nombok di warung dan juragan bawang. Belum satu pun dibayar. Ditambah lagi emak bingung bagaimana harus membayar pengobatan bapak dan uang kuliah kamu?” emak menangis.

“Mak, kenapa emak baru cerita kepadaku? Kalau tahu kondisi kita seperti ini, aku kan bisa berhenti dulu kuliah. Aku bisa kerja mak, bantuin emak mencari uang untuk pengobatan bapak. Apa gunanya kalau Silvia tenang-tenang saja dikota sementara keluarga disini sengsara? Nggak tahu diri banget kalau saya seperti itu mak.” Kata silvia.

“Vi, kamu mau kerja apa nduk? Cari kerja sekarang susah, Bu Nina tempatmu kerja dulu belum tentu menerima kamu lagi.” Kata emak.

“Kerja apa saja mak. Di kota aku kerja bantuin ibu kost jualan nasi bungkus keliling sepulang kuliah. Hasilnya lumayan bisa buat makan dan sedikit untuk ditabung. Tapi apa cukup untuk pengobatan bapak?” Tanya Silvia.

“Emak juga bingung mau jual apa lagi, harta kita sudah habis tergadaikan. Untuk makan saja ada singkong dari kebun, itu pun kudu di awet-awet biar bisa tetap makan setiap hari.”

“Maka dari itu izinkan saya bekerja membantu emak. Aku akan tetap tinggal disini bersama bapak, emak, dan dek Ririn.” Kata silvia.

“Bapak nggak izinin nduk? Kamu harus tetap kuliah, bapak akan bekerja sekarang.” Bapak keluar kamar ketika mendengar aku dan emak ngobrol.

“Bapak nggak usah maksain gitu toh pak? Kondisi bapak itu lemah. Gimana mau bisa kerja?” emak sedikit marah.

“Sudah, sudah, sudah. Pak e aku ngerti perasaan bapak. Tapi kondisi kita tak memungkinkan. Silvia juga sadar akan hal itu. Biarkanlah Silvia bekerja,  aku ingin bapak sembuh seperti sedia kala. Aku nggak mau lihat bapak dan emak kesusahan.” Silvia menangis memeluk bapaknya.

“Maafkan bapak nduk. Dulu bapak selalu ingin kamu menjadi sarjana dan orang sukses, tetapi sekarang malah bapak yang menangguhkan keinginan itu. Maafkan bapak nduk.” Kata bapak.

“Pak, namanya menuntut ilmu itu nggak pandang usia. Seperti peribahasa “Tuntutlah ilmu hingga sampai ke liang lahat”. Dan menuntut ilmu bisa dimana saja dan kapan saja. Tidak harus di bangku sekolah, bahkan saya bisa menyebut kalau pengalaman lah adalah ilmu yang paling berharga. Setinggi-tingginya ilmu seseorang kalau dia tidak pernah memiliki pengalaman, rasanya tak ada gunanya juga. Sekarang kan banyak sarjana-sarjana menganggur, padahal ilmu mereka tinggi tapi mereka miskin pengalaman dan skill. Siapa tahu nanti kalau kita ada rejeki, Insyaallah kan bisa nerusin sekolah lagi.” Kata Silvia.

Bella yang mendengar percakapan keluarga Silvia dari balik pintu kamar langsung menitikkan air mata. “Ya Allah, ternyata seperti inilah kondisi teman terbaikku yang selalu ceria dan semangat. Apa yang harus kulakukan untuk membalas budi baik Silvia. Kasihan keluarga yang malang itu.” Gumam Bella.

Kurebahkan badankku di atas dipan. Semalaman aku berpikir tentang keluarga Silvia, hingga akhirnya tertidur pulas sampai pagi datang kembali.

Bella keluar dari kamar lalu bergerak menuju pintu depan rumah. Hmm, masih sepi mungkin masih pada tidur semua. Aku jalan-jalan sendiri di depan rumah. Benar-benar sejuk sekali disini, melihat pemandangan alam yang sangat elok. Sawah terhampar luas sejauh mata memandang, udara pun sangat segar dan masih alami. Aku ingin pergi ke sungai dekat sawah yang kulihat kemarin, airnya tampak sangat jernih sekali. Tetapi sebaiknya aku pergi kesana bersama Silvia, dia lebih tahu jalan sini daripada aku. Aku kembali duduk-duduk di depan rumah sambil menikmati pagi.

“Hooaahm, eh Bella kamu sudah bangun.” Silvia menghampiriku.

“Eh kamu Vi, aku lagi menikmati udara pagi yang segar sekali.” Bella tersenyum.

“Oh iya Vi, kita pergi ke sungai yang kemarin yuk?” kata Bella.

“Haah, ke sungai. Sekarang kah? Ayo boleh.” Jawab silvia.

“Sebentar Vi, aku mau ambil jacket dulu. Di luar masih terasa dingin.” Bella masuk ke dalam.

“Baiklah. Aku tunggu disini saja. Cepat sedikit ya.”

“Siiph selesai. Ayo kita berangkat teman, cap cuss…”

Sepanjang jalan Silvia tak seperti biasanya, dia cenderung lebih diam dari biasanya yang suka ceria. Wajahnya tampak pucat karena kurang tidur tadi malam. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. “Vi, kamu kenapa? Kok diam saja?” tanyaku pada Silvia.

“Ngggaak apa-apa kok, aku sedikit mengantuk aja Bell.”

“Ngantuk? Tapi kok wajahmu Nampak pucat sekali gitu? Kamu sakit?” Tanya Bella khawatir.

“Ahh nggak lah. Aku kan kuat, mana mungkin sakit. Kita terus aja jalannya yuk.” Jawab Silvia.

“Silviaaaa, tungguin aku ketinggalan di belakangmu.”

“Eh Vi, aku besok mau pulang lagi ke Surabaya. Ibuku sudah nelpon kemarin, tapi aku masih pengen lama-lama disini.” Kata Bella.

“Pulanglah Bell, ibumu sudah khawatir. Tapi aku tak bisa kembali ke Surabaya.” Ungkap Silvia.

“Lhoh kenapa? Kamu kan harus masuk kuliah lagi Vi.”(aku pura-pura tidak mengetahui masalahnya).

“Bagaimana mau kuliah Bell? Aku sudah nggak mampu untuk nerusin kuliah, nggak ada biaya. Lagi pula aku ingin tetap disini menjaga bapak yang sedang sakit. Aku akan bekerja di desaku aja Bell, karena masalah tadi. Kuharap kau mengerti.” Kata Silvia.

“Vi, serius kamu? Kamu nggak akan kembali ke Surabaya?” Bella heran.

“Iya aku serius. Itu sudah keputusanku, mungkin saat ini aku nggak kuliah entah sampai kapan aku nggak tahu.”

“Baiklah. Aku mengerti kok Vi. Tapi besok tolong antar aku sampai Stasiun.”

“Ya pasti lah. Terimakasih Bella, kamu memang baik sekali.” Jawab silvia.

****

Esok pagi kami pergi ke stasiun. Bella harus pulang dan aku akan tetap disini. Kuantarkan Bella menunggu kereta di stasiun. Jalan kemarin yang kami lalui kembali.

“Vi, aku tak kan lupain perjalanan ke sini. Akan kujadikan pengalaman berharga sepanjang hidupku. Semoga kita dapat bertemu kembali di lain waktu Silvia. Sampai jumpa.”

“Daaa, hati-hati kamu Bella. Kalau sudah sampai kabari aku lewat surat ya. Sampai jumpa lagi. Aku juga tak kan pernah melupakanmu.” Jawab Silvia.

Bella masuk kedalam gerbong kereta. Tak berapa lama kereta pun berangkat, kulambaikan tangan kepada Bella seraya mengucapkan “Kita pasti ketemu lagi Bella”. Kereta lama-lama hilang dari pandanganku. Kemudian aku kembali pulang ke desa.

****

Di Surabaya, Bella sangat kesepian karena sahabatnya kini tak lagi disisinya. Maklum Bella adalah anak semata wayang dan selalu di sayang kedua orang tuanya. “Aku ingin bersama Silvia, tapi aku harus bagaimana. Dia tak lagi bisa melanjutkan kuliahnya. Sungguh teramat malang nasib gadis periang dan penuh semangat itu.” Gumam Bella.

“Kamu kenapa nak?” ibu menghampiriku.

“Ibu, aku sedih sekali. Sebulan sudah Silvia tak ada disini, tolong lakukan sesuatu bu? Malang sekali nasibnya, dia itu pintar, baik hati dan selalu mendapat prestasi di kampusnya.” kata Bella.

“Oh kamu kesepian nak. Nanti ibu mau coba ngomong sama ayahmu dulu, bagaimana langkah yang harus kita ambil.” Jawab ibu.

“Terimakasih bu. Bella sayang ibu.”

Ibu ngomong kepada ayah masalah putri semata wayangnya. Lalu kami memutuskan untuk mengangkat Silvia menjadi anak kami dan membiayai pengobatan bapaknya.

Tiga hari berikutnya orang tua Bella datang berkunjung ke rumah Silvia di desa sekaligus menyampaikan perihal maksud kedatangannya. Keluarga Silvia pun menyambut suka kedatangan orang tua kostnya itu. Mereka semua terkejut sekaligus bahagia mendengar maksud orang tua Bella.

“Alhamdulillah Ya Allah, sujud syukur kami panjatkan kepadaMU. Benar-benar suatu anugerah terindah untuk keluarga kami.” Ungkap bapak Silvia.

Hari berikutnya kami semua berangkat ke Surabaya bersama orang tua Bella. Silvia diangkat menjadi anak oleh orang tua kostnya menemani Bella yang sudah dianggap seperti saudara sejak awal dan bapaknya pun sekarang menjalani pengobatan juga di Surabaya sampai sembuh.

Akhir cerita, Silvia pun tetap melanjutkan kuliah hingga menyabet gelar Sarjana Teknik Sipil dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya). Kini dia telah bekerja di salah satu perusahaan di Surabaya. Dia tetap tinggal bersama Bella dan juga telah berhasil membuat rumah untuk orang tuanya di daerah Sidoarjo.

TAMAT

One thought on “Aku Pasti Bisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s