Catatan di Balik Pelajaran

DALAM laporan hasil survei yang diberi judul “Result Smarter Growth” Pricewaterhouse Coopers menjelaskan bagaimana para pemimpin bisnis merespons tantangan resesi dan bagaimana posisi perusahaan mereka untuk masa depan.

Dalam setiap survei PricewaterhouseCoopers juga meminta CEO untuk menggambarkan apa yang bisa mereka ambil dari pelajaran krisis. Selama ini banyak komentar yang disampaikan CEO dalam survei tersebut. Salah satu komentar yang sering disampaikan adalah mereka tidak cepat bereaksi ketika kondisi tiba-tiba berbalik.

“Kalau saya harus melakukannya lagi, saya akan lebih optimistis. Semua hal harus saya lakukan misalnya dalam penghematan biaya akan saya lakukan di awal. Lebih radikal.” Demikianlah salah satu komentar yang cukup khas dan sering disampaikan CEO ketika disurvei PricewaterhouseCoopers. Gagasan bahwa beberapa bisnis atau seluruh industri dapat kebal dari perubahan kondisi tampaknya telah memberikan gambaran bahwa sejumlah industri seringkali terjebak dalam situasi kekalahan.

Belajar dari pengalaman sejumlah industri menghadapi krisis dalam setahun terakhir membuat para CEO mencatat “kata-kata kunci” yang bisa menjadi pegangan mereka di masa mendatang, khususnya ketika harus kembali menghadapi badai krisis. Beberapa kata yang sering mereka sampaikan misalnya “evaluasi risiko”, “biaya adalah raja”, “modal adalah raja”, “jadilah transparan”, “keserakahan bisa berbahaya”, “jangan percaya lagi”,“jadilah fleksibel”.

Itulah sederet kata kunci yang muncul. Seorang CEO asal Uruguay bahkan selalu menyampaikan: “selalu memiliki rencana B”. Dengan pengalaman ditempa krisis, para CEO berusaha untuk memperkuat ketahanan organisasi mereka, namun tetap selaras dengan peluang yang muncul. Ini tindakan penyeimbangan yang sulit. Pelajaran dari krisis keuangan berputar terutama di sekitar bagaimana mereka mendapatkan kontrol yang lebih besar terhadap sebuah situasi.

Bagaimana pula mereka menghadapi “gangguan” internal dan eksternal. Para CEO juga menganggap pentingnya perencanaan jangka panjang. Kendati begitu, ketika terjadi perubahan radikal, selalu ada persiapan yang matang untuk menghadapinya. Dalam hal ini strategi menjadi begitu penting, baik strategi yang bisa dipahami pelanggan, karyawan, ataupun mitra bisnis.

Ya, peranan sebuah strategi bisnis tidak bisa dianggap remeh ketika menghadapi krisis. Kecepatan merespons perubahan kondisi pasar sangat mungkin memberikan model-model perencanaan meski seringkali hal itu masih menjadi perdebatan.

Seperti diungkapkan Chairman Pricewaterhouse Coopers International Limited Denis M Nally dalam laporan ini bahwa kunci menghadapi krisis adalah kelincahan di seluruh lini organisasi untuk memungkinkan reaksi cepat terhadap perubahan tren agar mampu mempertahankan posisi strategis perusahaan.

Seorang CEO dari Portugal mengatakan, fleksibilitas adalah senjata yang paling penting. “Fleksibilitas adalah kunci untuk meratakan efek dari krisis.Hal itu diperlukan dalam produksi, biaya, dan tindakan komersial,” kata CEO tersebut.

Disiplin Biaya dan Inovasi

Mengingat pentingnya keberadaan modal,menjadi alur bagi para CEO untuk berhati-hati dalam memperlakukan dana yang ada. Pengeluaran yang tidak terkontrol akan membuat mereka masuk pada lubang krisis yang lebih dalam. Karena itu, CEO tetap harus terfokus pada unsur biaya dengan menerapkan efisiensi di seluruh organisasi.

Kendati begitu, para CEO harus tetap berkonsentrasi pada hal-hal yang menjadi penyeimbang dalam jangka panjang. Mereka harus tetap fokus pada apa yang diperlukan untuk tetap kompetitif salah satunya inovasi.“Saya telah menemukan fakta bahwa Anda tidak bisa benar-benar mengurangi biaya secara dramatis dan masih tetap menguntungkan,“ kata seorang CEO yang berbasis di Inggris.

Dengan begitu, banyak harapan pertumbuhan dunia yang bisa ditempatkan pada permintaan dari pasar-pasar baru. Meski persaingan lebih sengit, dengan dukungan inovasi dan kekuatan finansial, sangat mungkin akan mampu bertahan dengan perusahaan lain, khususnya mereka yang berstatus multinasional.

Inovasi dan pengembangan produk baru merupakan landasan untuk posisi di masa depan. Seorang CEO mengatakan, krisis perusahaannya tidak diajarkan untuk melakukan outsourcing pada inovasi. ”Jangan menunggu krisis lain untuk perubahan,“ kata seorang CEO di industri manufaktur. Yang tidak kalah penting dari pelajaran krisis adalah bagaimana mengelola risiko.

Mengelola risiko ini harus dilakukan baik di masa krisis maupun normal. Karena itu menjadi wajar jika pentingnya praktik manajemen risiko yang baik adalah yang paling sering dikutip sebagai pelajaran oleh CEO. Kesalahan pendekatan mereka pada risiko berbanding lurus dengan praktik risiko di sektor keuangan.

Seorang CEO perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan keuangan menyimpulkan bahwa peraturan bisa baik-baik saja, tetapi perusahaan-perusahaan yang harus mengevaluasi risiko menjadi lebih baik. ”Kita perlu mengambil manajemen risiko dengan serius,” kata seorang CEO dari Ceko.

Seorang CEO asal China mengatakan, manajemen risiko harus merupakan sebuah strategi sistematis jangka panjang.Tidak hanya dilaksanakan pada saat krisis. Sementara itu seorang CEO dari Belgia menilai bahwa mengelola risiko dalam lingkungan yang berubah adalah tantangan besar.

Krisis ekonomi tampaknya membuat para CEO lebih bijak mengantisipasi dalam menentukan langkah. Mereka tidak ingin masuk ke lubang yang sama di masa mendatang. Ya, krisis telah banyak memberikan catatan dalam sebuah pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s