Kajian Islam di Asia Tenggara

SETELAH anak benua Indo-Pakistan dan Bangladesh, Asia Tenggara barangkali merupakan konsentrasi para pemeluk Islam terbesar di muka bumi dengan kesatuan budaya yang cukup mengesankandibanding anak benua itu, Asia Tenggara secara keseluruhan barangkali merupakan kawasan besar kaum Muslim yang relatif baru dalam perkenalannya dengan Islam dan peradaban. Ketika pada peralihan abad XI ke abad XII al-Ghazâlî sibuk melancarkan polemiknya yang terkenal terhadap para filsuf Muslim, Pulau Jawa, misalnya, masih berada sekitar masa kekuasaan Raja Jayabaya (dari Kediri). Dan ketika Majapahit didirikan pada 1297 M, lembah sungai Indus sudah enam abad sebelumnya berkenalan dengan Islam, yaitu sejak penaklukan-nya pada 711 M.

Meskipun Pulau Jawa tidak sepenuhnya mewakili seluruh Asia Tenggara (Semenanjung Melayu dan Sumatra Pantai Timur tentu lebíh mewakili), namun kenyataan sejarah tersebut kiranya sedikit memberi ilustrasi tentang segi kemudaan Islam dan budaya Islam di kawasan ini. Barangkali hal itu dapat juga memberi keterangan tentang sebab mengapa sedikit banyak kawasan ini mengalami semacam kesenjangan ilmiah dengan bagian dunia Islam yang lain, tergambar dalam sedikitnya jumlah kontribusi orisinal kaum Muslimnya untuk perbendaharaan keilmuan Islam internasional. Dalam hal karya berbahasa Arab memang terdapat beberapa ‘ulamâ’ Asia Tenggara yang telah memberí kontribusi “lumayan” kepada kekayaan intelektual Islam dunia. Dua di antaranya patut disebut di sini, karena kontribusi mereka yang berotoritas, yaitu al-Shaykh al-Nawawî al-Bantanî (dari Banten), pengarang tafsir al-Qur’ân, Marah Labîd; dan al-Syaykh Ihsân Muhammad Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî (darí pesantren Jampes Kediri), pengarang kítab Sirâj al-Thalibîn. Kedua kitab ini mendapat pengakuan secukupnya pada taraf internasional. Kitab Sirâj al-Thalibîn, tersebar ke seluruh dunia sampai ke lembaga-lembaga pendidikan Islam di kawasan Afrika Barat Daya. Jadi, seperti dikatakan oleh Abdurrahman Wahid, kítab itu telah menjadi karya dunia.

Tetapi kontribusi dalam bahasa Melayu/Indonesia masih sangat miskin, dan yang ada pun kurang orisinal. Keadaan ini terbukti dari hampir total tidak diakuinya peranan bahasa Melayu/Indonesia dalam pusat-pusat kajian Islam Timur Tengah dan Barat sebagai salah satu bahasa Islam yang boleh atau harus diketahui seorang pengkaji sebagai kemungkinan medium pendalaman dan perluasan pengetahuan tentang Islam dan peradabannya. Hal ini berbeda dengan pengakuan yang memang menjadi hak bagi bahasa-bahasa Arab, Persi, Turki, Urdu, dan lain-lain.

Bertitik tolak dari kenyataan itu kiranya kita dibenarkan untuk mengatakan bahwa sesungguhnya Asia Tenggara masih sedang mengalami proses ke arah tingkat penyerapan agama dan peradaban Islam yang lebih tinggi dan pekat. Dalam kerangka proses Islamisasi yang lebih lanjut itulah kita harus melihat kemungkinan menemukan suatu model atau model-model kajian Islam yang lebih ilmiah. Sebab yang kita perlukan ialah pemerkayaan bahan dalam khazanah keilmuan kita sendiri, yang nantinya mungkin dapat kita jadikan pijakan guna membina suatu bentuk peradaban Islam dalam konteks Zaman Modern yang dituntut oleh lingkungan khas kita, Asia Tenggara. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s